Minggu, 12 Maret 2017

Tangisan Tanpa Airmata

Malam cukup kental menghitam. Hitam pekat menyelimuti lorong jalanan. Bulan enggan menampakkan diri. Mungkin karena dingin menusuk tulang yang terasa mengigit. Angin yang berhembuspun kian lama kian ribut. Menghantam-hantam pepohonan melayangkan dahan kemanapun semaunya menambah keributan. Para bintang-bintang, sembunyi dibalik awan-awan yang hitam legam. Suara gemericik mulai mendekat dan tanpa aba-aba. “byurrrr” airnya turun tidak terkira. Semua basah. Pepohonan basah. Jalanan basah. Lampu-lampu berkarat yang tak menyala di pinggir jalan pun basah.

“Ais bangun bantu emak, ambil ember di dapur.” Ais yang tengah terlelap beberapa menit yang lalu dikejutkan oleh emaknya. Jalannya terhuyung-huyung, lampu padam, listrik padam. Gelap gulita. Ais berjalan meraba-raba ke dinding.

“Mak kenapa gelap sekali, Ais tidak bisa melihat.” Ais masih meraba-raba menuju dapur berusaha menemukan sesuatu sebagai penerang agar lebih memudahkannya mencari ember yang emaknya maksud untuk menampung air hujan akibat genteng rumah yang bocor.

“Pasang lampu minyak Ais, itu di bawah anglo.” Teriak emaknya dari dalam kamar berusaha menenangkan anak bungsunya yang baru dua bulan.

Hujan semakin deras bagai dituang dari atas langit. Pepohonan semakin cepat meliuk ke sana ke sini diterpa angin ganas yang bertiup semaunya. Guntur perlahan-lahan terdengar. Seberkas cahaya kilat menyambar pohon getah hingga ambruk menghalangi akses jalan ke kota. Keributan semakin menjadi menciutkan nyali para insan yang sudah terjaga dari tidurnya yang lelap. Hanya sekedar memastikan agar gubuk reot milik mereka tak ambruk diterpa badai.

Ais tetap merambat di tepian dinding mencari ember agar rumahnya tak digenangi air. Tak peduli pada petir yang menyambar-nyambar. Ais hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan ember secepat mungkin dan mendapatkan cahaya. Cahaya yang akan menerangi jiwanya yang kelam. Hatinya yang sunyi. Pikirannya yang sepi. Ais tak peduli pada petir yang bisa membunuh orang karena baginya kini ia telah mati. Mati dalam kesendirian. Sunyi, sepi sekali. Harapannya pun sirna disambar petir. Hatinya hancur diobrak-abrik lebatnya hujan. Ais sudah mati sejak lama.

“Aduh” Ais terpeleset.

“Kenapa Ais?”

“Kepeleset mak, sakit mak.” Ais mengadu.

“Alah, sedikit ajalah itu. Cepatlah Ais, adikmu takut ini gelap tak ada cahaya.”

Ais sabar, Ais sudah bosan mengomel di dalam hati karena sikap emaknya terhadap dia. Ais tak bisa lagi merasakan sakitnya mendapat perlakuan tidak adil dari emaknya. Hatinya sudah beku tak bisa lagi merasakan apa-apa.

Merasakan sakit? Sedih? Bahagia? Apa itu bahagia?
Ais tak lagi tau bagaimana rasanya bahagia sejak ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu.
Berbeda dengan kakaknya yang kini sedang kuliah di kota. Selalu dimanja-manja. Selalu dipuji-puji. Apapun yang kakaknya inginkan selalu dituruti. Sedangkan maunya Ais? Jangan harap mendengar saja mungkin tak sudi. Sama seperti keinginan Ais kala itu. Di bawah kaki bukit Ais duduk bersama Ayahnya, setahun yang lalu.

***
Hembusan angin manja membelai-belai rambut Ais yang terurai. Menambah pesona kecantikan, gadis berusia 17 tahun itu. Semburat cahaya oren kemerah-merahan menjelma di balik bukit pelengkap senja sore itu. Menghantar kepergian mentari pulang keperaduan.

“Ais, mari pulang. Kita beres-beres besok kan kamu berangkat pagi-pagi sekali. Nak, ingat pesan ayah ya? Jangan pernah tinggalkan solat.” Ayah beranjak dari rumput berjalan pelan sambil menunggu Anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa, yang besok akan kuliah di kota berjauhan dengan dirinya. Kekhawatiran tercetak jelas di muka Ayahnya. Namun sang pemilik berusaha menutup-nutupi dengan lekukan di bibirnya yang disebut senyuman.

Ais yang membeku, akhirnya beranjak.

Ketika gelap menghampiri Ais termenung sendiri. Ingin segera menutup mata, menghalau segala kembimbangan dan kegundahan hati meninggalkan kampung halaman, meninggalkan keluarga demi meraih cita-cita. Saat mencoba menutup mata, kesedihannya semakin menggerogoti hati. Akhirnya ia bangun dan menikmati malam yang terasa mencekam dan tiada akhirnya itu dengan menumpahkan segala isi hatinya ke dalam sebuah karangan kecil. Akhirnya ia terlelap sendiri sampai fajar menyambut.

“Ayah kemana? Kenapa belum bangun.”

Ais bergegas ingin membangunkan ayahnya karena azan subuh telah berkumandang. Air wudhu yang mengalir kini bercampur baur dengan airmata kesedihan Ais. Ais tak pernah meninggalkan ayahnya. Ayahnya masih terlelap. Wajahnya begitu tenang.

Ayah tersenyum. Pikir Ais.

Ais mendekati Ayahnya.

“Ayah, bangun yah.”

Ayahnya tak bergerak sedikitpun.

“Ayah, sudah subuh Ayah.”

Karena tak sedikitpun melihat reaksi ayahnya, Ais mengguncang tubuh ayahnya.

Nihil. Ayahnya tak juga bergerak.

“Ayah.” Ais sedikit berteriak.

Ais terdiam. Perlahan-lahan airmatanya yang sudah kering merembes lagi turun ke pipi.

Ayah bangun ayah, antarkan Ais ke kota Ayah. Ayah bangun. Ais berteriak dalam keheningan.

“Ayaaaaaaaah” teriak Ais menggema. Airmatanya tak terbendung lagi. Tumpah ke mana-mana. Ais mengguncang tubuh Ayahnya sekuat-kuatnya.

“Ayah, jangan tinggalin Ais, Ayah.” Ais berbisik di telinga ayahnya.
***
“Ais, puisi ini kamu yang buat?” Tanya ayahnya sambil memegang selembaran kertas lusuh di atas meja belajarnya.

“Iya, ayah. Jelek ya ayah?”

“Bagus nak. Teruskan. Kamu sepertinya nurunin bakat Ayah nak. Ayah suka sekali sastra. Ayah ngedapetin ibu kamu aja karena keindahan sastra. Setiap hari ayah selalu bikinin ibumu puisi dan Ayah selalu memberikannya ketika ibumu pulang dari kerja. Awalnya ibumu tak merespon apa-apa tapi kerana ayah setiap hari memberikan puisi-puisi sebagai symbol pernyataan cinta ayah pada ibumu, akhirnya ibumu luluh nak. Bagi ayah, puisi adalah ibumu. Karena tanpa ibu, ayah tak bisa merangkai kata-kata.”

“Waaa, ayah romantis sekali.”

“Nak, kamu tau sastra itu abadi, maka buatlah karya sastra. Kalau gitu buatin puisi untuk ayah, jika ayah telah tiada, maka ayah akan selalu abadi di dalam puisimu.”

“Siap ayah.”

Ais tersadar dari lamunannya. Airmatanya tak dapat lagi menetes. Kering. Beku. Seperti jiwa Ais saat ini. Tak ada lagi harapan hidup. Kebahagiaannya pun telah sirna bersama kepergian ayahnya. Takkan ada lagi yang membela dirinya ketika salah. Tak ada lagi yang memberikan kasih sayang.

Karena kepergian Ayahnya. Ais kini tak dapat melanjutkan lagi kuliahnya. Siapa yang akan membiayai. Ayahnya telah tiada. Sirna sudah semua harapan.

Hari-harinya, kini ia lalui dengan termenung, menulis, termenung, menulis.

“Ayahku tak pernah meninggalkanku karena keindahan ayah selalu terpancar di dalam hatiku. Di dalam puisi-puisi ini.” Ais menangis sesenggukan sambil memeluk erat buku diary pemberian ayahnya.





#minatsastra1
#dulce_et_utile








Rabu, 04 Januari 2017

Cuma Pengen Nikah


Terpandanglah dua orang insan yang sedang dimabuk asmara dibawah mentari yang hampir kembali keperaduan. Aku menatap sinis terhadap dua insan itu.

Aku pengen nikah ya ALLAH seperti mereka. Aku membatin dalam hati.

Ketika mentari kembali keperaduan sekaligus menghantarkan kepergian dua orang insan manusia yang kabarnya baru menikah dua minggu yang lalu. Tak lupa sang suami menggenggam erat tangan istrinya yang bercadar. Aku melihat sang suami membisikkan sesuatu kemudian berlalu meninggalkan sang istri. Aku lihat sedetail mungkin, ada tawa dibalik cadar hitam sang istri yang sepertinya dibisikkan sesuatu yang lucu oleh sang suami.

Aku pengen nikah ya ALLAH bener-bener pengen. Aku kembali membatin lagi, bahkan aku berteriak dalam batinku.

Setelah puas memperhatikan kedua insan itu, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil air wudhu untuk bertemu Rabb-ku.

“’Afwan ukhti ” Wanita bercadar itu tak sengaja menyenggol lenganku.

“Iya gapapa.” Jawabku singkat.

Adzan pun berkumandang, para peserta tablig akbar dan mabit (malam bina dan takwa) yang jumlahnya berkisar sekitar 150-an untuk yang akhwatnya bergegas mengambil air wudhu.

“Subhanallah, ya ALLAH andai semua wanita di dunia ini semuanya menutup aurat dan pakaian syari’I semuanya seperti ini, adem banget lihatnya kan ra.”

“Iya bener sa.” Aura menjawab sambil memandang kagum dengan pemandangan yang ada di depannya.

“Sa, tadi liatkan pengantin baru yang duduk di tangga tadi, aku liat mereka jadi pengen nikah.” Aku berkata sambil memegang pipi Alisa yang matanya berkeliaran memandang para ikhwan yang sibuk mengatur shaf untuk sholat berjamaah.

“Huss, ya ukhti jaga pandangan, mau solat pun masih maksiat.”

“Aku pun pengen kali ra, tu sama ikhwan yang itu tu. Yang pake baju hitam celananya gak isbal (celana di atas mata kaki). Ganteng, hapal 15 juz lagi. Dan yang paling buat aku salut itu, matanya dijaga banget. Ya ampun liat bawah mulu tu orang.”

“Halimkan?”
“Ah, kamu ini. Udah ayuk ah cepet mau solat juga.” Aku segera merapat ke kanan meluruskan shaf yang kosong di bagian depan.
***
Semenjak pulang dari acara tablig akbar, dan semenjak aku melihat dua insan yang dimabuk cinta di bawah senja sore kala itu. Aku menjadi semakin pengen menikah. Awalnya karena usiaku yang memang usia-usia cocok untuk menikah, kemudian ditambah dengan teman-teman seperjuanganku dulu di bangku sekolah sudah banyak yang menikah dan ditambah lagi teman-teman kuliahku banyak juga yang menikah muda dan berita-berita, gosip-gosip. Di tv, sosial media, lingkungan pergaulanku, bahkan ketika aku mengikuti kajian semuanya berbicara tentang “nikah muda”. Aku semakin mantap rasanya untuk menikah. Aku bahkan sudah menulis proposal pernikahan yang sewaktu-waktu bisa saja aku hantarkan ke murrabiku. Tak hanya itu aku bahkan sudah memikirkan konsep pernikahanku yang didominasi dengan warna pink namun sederhana yang penting syari’i. Aku mem-follow akun-akun yang menawarkan baju pernikahan, pelaminan, bahkan sampai ke persiapan diriku pribadi untuk sang suami. Aku mulai merawat tubuhku. Luluran setiap hari, masker-an tiap malam.

Malam itu, aku terbangun dari tidurku seperti malam-malam biasanya yang kulalui beberapa bulan terakhir ini. Aku meminta kepada-Nya, aku memuja muji-Nya. Kusampaikan segala kerinduanku bersama angin malam. Kusampaikan segala kerinduanku akan sang pendamping pada bulan dan bintang. Kusampaikan kerinduanku pada sang Rabb-ku di sepertiga malam.
Aku sengaja bangun lebih awal, karena seperti biasa. Ku tuliskan segalanya, kutumpahkan segala sesak di dadaku lewat kata-kata.

Merasakan dinginnya angin pagi membuat aku rindu padamu kekasih
Dimana engkau dimana
Menabung rindu sudah terlalu banyak
Menyimpan harapan sudah terlalu lama
Tapi tak jua ku temukan dirimu oh kekasih
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan daun yang tak sempat disampaikan ranting kepada pohon hingga menjadikannya gundul.
Dengan kata yang tak mampu diucapkan mulut hingga menjadikannya kelu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana kekasihku.  

Berlembar-lembar sudah kutuliskan kerinduanku hingga memenuhi blogku. Setelah selesai menuliskan surat cinta itu aku selalu mempostingnya ke blog pribadiku.

Beberapa menit aku memposting itu ada komentar dari seseorang yang sepertinya aku kenal. Orang itu adalah Halim. Aku benar-benar tak menyangka. Laki-laki yang menjadi impian para wanita tiba-tiba berkomentar di blogku.

Mimpi apa aku semalam. Halim komentarin blogku.

“Teruskan berkarya, suka sekali deh sama kata-katanya yang sederhana. Pasti suka banget kan sama sapardi djoko damono. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Karya beliau kan. Salam dari penggemar sapardi djoko damono.”

Aku berniat ingin membalas namun aku bingung harus membalas apa. Akhirnya aku memutuskan untuk membalas singkat.

“Iya, suka makasih ya. Salam.”

Aku sebenarnya ingin sekali menceritakan hal ini kepada Alisa teman sekamarku namun aku tak ingin menyakiti hatinya karena sepertinya Alisa benar-benar tertarik pada Halim. Bahkan hijrahnya pun sebenarnya karena Halim ya walaupun niatnya ikhlas karena ALLAH tetap saja perantaranya Halim. Sebelum hijrahnya, Alisa selalu menceritakan sosok laki-laki yang buat dia kagum, dia selalu menceritakan bahwa laki-laki itu selalu menjaga pandangannya.

 “Pernah kemarin tu lagi di kantin, kantin penuh banget dan aku laper banget. Kebetulan banget ada kursi yang kosong dan di depannya itu si Halim. Aku duduklah di depannya. Eh tiba-tiba pergi gitu aja dia gak jadi makan dan pesanannya di batalin.” Alisa menceritakan dengan gayanya yang agak lebay jika sudah bersamaku tetapi bila bersama teman yang lainnya dia tak menampakkan ke-lebay-annya itu.

“Kamu mau gak sama dia?”

“Ya maulah.”

“Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, makanya hijrah. Tinggalin semua kejahiliyah-jahilayah yang sekarang ada, tinggalin celana jin, baju ketat plus nerawang. Sering ikut kajian. Dan dekatkan diri kepada ALLAH, deketin dulu penciptanya.”
***
“Aura hari ini liqo ba’da ashar. Jangan lupa, aku mau ke rumah teman ngerjain tugas, jadi nanti langsung ke sana. Jadi aku tunggu di sana ya.” Alisa memberitahu kemudian bergegas meninggalkan aku yang baru bangun dari tidur panjangku di hari libur.

Ternyata, murabbiku hari ini membahas tentang persiapan pernikahan. Banyak sekali persiapan-persiapan yang tak pernah terbayangkan olehku. Dan di situ kami juga main jujur-jujuran seputar jodoh. Dari jawaban-jawaban yang dilontarkan temanku sepertinya cuma akulah yang jawabannya seperti anak SMA yang berangan-angan menikah. Dan bahkan Alisa pun sepertinya lebih mantap ketimbang aku dalam hal ini.

Malam itu ditemani dentingan jarum jam aku berfikir keras. Bersama sunyinya malam aku mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawabkan oleh senja. Ditemani rembulan aku menerka-nerka jawaban-jawaban yang bersembunyi dibalik awan-awan yang menghitam di kala malam. Aku berkelana melewati bintang yang satu ke bintang yang lainnya. Rasanya aku tak peduli lagi berapa jaraknya, yang ku inginkan saat ini hanyalah jawaban.

“Apa benar aku sudah sanggup untuk menikah?”

Ditengah-tengah kebimbangan yang menghantuiku setiap malam mengampiri beberapa minggu ini. Tiba-tiba saja murabbiku menanyakan pertanyaan yang sama padaku.

“Kamu udah siap untuk menikah? Ada laki-laki yang menyukaimu. Dia sudah menghantarkan proposalnya pada Umi, ini kamu baca ya. Kamu udah siap Aura?”
***
Pertanyaan dari murabbiku itu selalu menghantuiku, jujur saja beberapa hari ini aku selalu tidak fokus dengan aktivitasku baik di dalam kelas maupun diluar kelas. Aku semakin bertanya-tanya. Aku jadi semakin takut, aku jadi semakin ragu. Yang awalnya 95% keinginanku untuk menikah kini hanya tinggal 5%. Entah kenapa aku menjadi semakin tak percaya diri.

Sebenarnya sanggupkah diri ini? Atau hanya angan-angan anak SMA yang baru pubertas.

Aku sudah istikharah hampir seminggu tapi tak sedikitpun kemantapan itu muncul seperti dulu saat aku fikir menikah itu enak dan gampang. Padahal jujur saja, dari lubuk hatiku yang dalam aku diam-diam juga menaruh perasaan pada Halim sejak pertama kali bertemu di kala senja itu, saat aku tak tau harus pulang dengan siapa sehabis syuro untuk kegiatan memperingati malam tahun baru islam. Akhirnya Halim yang melihatku kebingungan dan teman-teman yang lain semuanya sudah pulang. Dia membantuku dengan meneleponkan adik perempuannya yang kebetulan ada di sekitar tempat kami syuro. Akhirnya aku pulang bersama adiknya dan ia juga mengikuti kami di belakang. Saat adiknya mulai ngebut mengendarai scoopi hitam dominan merah itu, si Halim pun mulai mendekat dan memarahi adiknya supaya jangan ngebut-ngebut. Aku jadi semakin tertarik padanya.


Di kala senja itu, dengan mantap aku mengatakan pada murrabiku. “’afwan ustadzah, saya belum bisa nerima dia untuk saat ini.”
Bukankah ALLAH begitu dekat?
Bahkan lebih dekat dari urat nadimu.

Kita selalu merasa bahwa ALLAH meninggalkan kita saat kita terbelit oleh masalah yang tiada habisnya. Kita berseru …
“Ini tidak adil Tuhan.”
Ketidakadilan yang mana? Bukankah masalah saudara kita yang di Aleppo lebih besar ketimbang kita yang masih bisa hidup dengan bebas seperti ini?

Apakah tidak malu mengatakan Tuhan tidak adil, justru kitalah yang tak adil terhadapNya. Kewajiban-kewajiban selalu kita lalaikan tapi terus-terusan menuntut hak-hak kita. Jadi siapa yang sebenarnya tak adil saudaraku?

Solat sering telat, sedekah masih mikir, padahal ALLAH tiada henti-hentinya memberikan berbagai kenikmatan. Begitu banyak kenikmatan yang sejak lahir bahkan sampai saat ini kita rasakan tak pernah ia cabut sekalipun.

Lalu saat Dia menyenggol dengan sedikit cobaan, tidakkah kita sadari, bahwa Dia memintamu untuk mengadu pada-Nya, meminta pada-Nya, memohon pada-Nya, dan kembali ke jalan-Nya.

Wahai saudaraku…
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,” (Q.S  Al-Inshirah : 5)

Sahabatku daripada mengeluh karena beban hidup yang terus-terusan menghimpit, bukankah lebih baik bangkit dan bukankah lebih baik kita doakan saudara kita yang di Aceh, di BIMA, dan di Aleppo.

Jika mulai bosan dengan kehidupan ini cobalah bayangkan bagaimana sedihnya anak-anak Suriah yang kelaparan bahkan kehausan.

Jika mulai merasa hidupmu tak ada artinya, cobalah bayangkan bagaimana susahnya para lelaki suriah untuk medapatkan hak hidup mereka.

Jika mulai merasa tak ada yang peduli, bayangkan bagaimana perasaan masyarakat Aceh dan BIMA yang tak sedikit dari kita yang tak peduli pada penderitaan mereka.

Saudaraku mohonlah pada ALLAH.
Saudaraku ALLAH dekat denganmu.



Jumat, 29 Juli 2016

pengalaman bersama dosen

Di kala pagi itu, burung-burung sedang asik kejar-kejaran di bentangan karpet biru yang-Nya ciptakan dengan begitu megahnya. Ku lihat ke luar kaca jendela yang ada di bus, ku tatap pepohonan di seberang sana yang seakan melambai-lambai perjalanan kami. Perjalanan yang selalu aku kagumi. Bahkan sedetikpun aku tak ingin berpaling dari menikmati indahnya alam yang masih perawan ini. Di tambah lagi alunan musik yang semakin menambah kenyamanan.
Bus berhenti tepat di depan fakultas, aku segera bergegas menuju kelas bersama kedua temanku yang selalu pergi bersama, kemana saja. Namun saat ingin memasuki kelas, kelas masih tertutup rapat, bahkan orangpun belum ada hanya kami yang baru datang saja. Akhirnya kami memilih untuk duduk sambil menunggu pukul 8 karena perkuliahan akan di mulai pukul 8 pagi.
Tadi malam sebelum tidur sempat kulihat buku kuliahku, ternyata pagi ini kami masuk mata kuliah sanggar Bahasa dan Sastra. “Ah, membosankan”. Pikirku yang kesal karena aku memang tidak menyukai sastra awalnya. Ku lihat dosen perempuan ternyata. “Cantik.” Pikirku. Ia mulai membuka suara. “Lembut orangnya”.
“Ngarang puisi? Nanti dibacain ke depan kelas? Yang benar saja, mana aku bisa dengan suara cemprengku ini”. Gerutuku saat ia memberi tugas pada kami. Namun benar kata orang, “bisa karena terbiasa.” Bahkan sekarangpun aku sangat menyukai sastra dan terkadang di waktu luangku aku juga mengarang puisi dan cerpen.
Namun pertemuan kami singkat saja, sekitar berapa kali pertemuan karena kebetulan ibu sudah hamil tua dan akan cuti panjang, sayang sekali padahal aku masih ingin mendapat pengetahuan darinya yang sudah lama berkecipung dalam hal yang berbau sastra.
***
Banyak hal baru yang ku dapatkan saat aku di sini, di kampusku. Pelajaran berharga pun aku dapatkan dari dosen yang mengajar mata kuliah pkn. Dosen laki-laki memang, tapi bukan karena aku tertarik pada tampangnya, aku tertarik dengan cara ia mengajar. Aku benar-benar kagum dengan apa yang ia berikan. Tak membosankan, padahal dari SD bahkan sampai SMA, aku paling anti sekali masuk mata pelajaran pkn, membosankan. Karena memang begitu kenyataannya. Namun bapak ini begitu unik, ia selalu bisa membuka wawasan kami. Dan mendobrak jalan fikiran kami yang masih ketinggalan. “Jangan sampai di tipu massa.”  Katanya saat itu di sela-sela pembicaraan kami. Bahkan karena di ajar olehnya aku sampai menyukai berita-berita tentang pemerintah, yang dulunya aku sangat anti sekali. Mendengar kata pemerintah saja aku sudah malas. Penampilannya yang simple pun menambah kekagumanku padanya. Ada beberapa pertanyaan yang masih teringat jelas di ingatanku yang ia berikan.
“Ada seorang nenek yang mencuri makanan demi cucunya yang kelaparan lalu ia pun keathuan dan dipenjara bahkan dibawa sampai ke pengadilan, jadi menurut kalian siapa yang salah? Padahal orang miskin dalam undang-undang dilindungi oleh Negara.” tanyanya mantap.
Kami terdiam, tak ada satupun dari kami yang membuka suara. Suasana hening seketika, akhirnya dia mulai bercerita panjang lebar, ia tak pernah memberikan jawaban yang pasti ia selalu memberikan jawaban yang akhirnya kami cerna sendiri dan terkadang akupun tak mendapat jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaannya yang seperti itu. Namun banyak hal lain yang aku dapatkan daripada jawaban itu sendiri.
“Kalian buat projek kemanusiaan selama perkuliahan dengan saya.” Katanya.
“Projek kemanusiaan? Apa tu ka?” kata teman sebelahku.
“Tak tau”. Jawabku.
Seketika kelas menjadi riuh atas tugas yang ia berikan padahal bapak pun belum beranjak dari kelas. Ia diam, lama juga. Akhirnya kami sadar ia diam karena kami berisik.
“Menarik caranya.” Pikirku.
Projek kemanusiaan itu adalah aktivtas yang kalian lakukan setiap hari sampai jangka waktu yang ditentukan. Kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain misalnya menyebrangkan anak sekolah di jalanan. Membantu membawakan barang-barang belanjaan ibu-ibu di pasar dan sebagainya.
Di pertemuan berikutnya…
“Artika, ambil projek apa? Lalu ceritakan apa dari awal sampai sekarang apa yang terjadi dengan projekmu.” tanyanya kepadaku karena namaku berada di absen pertama.
Aku menjawab singkat sekali begitu juga dengan beberapa temanku yang lainnya dan akhirnya ia berhenti memanggil dan menjelaskan tingkatan dari jawaban kami. Secara tidak langsung yang dapat aku petik dari penjelasannya adalah penjelasan yang baru ku jawab beberapa menit yang lalu, layaknya jawaban anak TK.
“Kalian tahu kita umat muslim punya kewajiban atas tetangga kita, jika tetangga kita kelaparan sementara kita selalu makan enak. Maka kita akan bertanggung jawab pada akhirnya, karena kita semua seluruh umat muslim adalah bersaudara. Jadi kita harus peduli terhadap saudara kita.” Seperti itulah kiranya penjelasannya di lain waktu.
“Baiklah kita mulai ujian kita, kalian boleh melihat buku”. Aku sangat senang sekali mendengar pernyataannya. Namun setelah ia memberikan soalan yang pertama, aku kaget bukan main, soalan yang berikan adalah soalan yang membutuhkan jawaban berdasarkan logika masing-masing. Soalan yang ia berikan benar-benar membuat aku bingung, akhirnya aku hanya mengarang indah saja. Lumayanlah daripada materi yang keluar, pasalnya tadi malam aku tidak begitu focus belajar, menghapal materi lebih tepatnya.
Saat fikiranku buntu pada beberapa soalan yang diberikan, aku lebih memilih melamun. Tiba-tiba aku jadi teringat pada saat aku dan teman sekelasku dimarahi oleh dosen pengganti linguistik. Bayangkan saja 3 kali pertemuan bersamanya kami hanya mendengar santapan rohani darinya. “Agak cerewet ya”. Kata teman-temanku sekelas akupun sempat berfikiran seperti itu. Ada saja yang salah, namun sebenarnya salah kami juga, karena saat akan tampil diskusi, kelompok yang akan tampil tidak menyediakan persiapan dengan matang. Dosen mana coba yang tidak marah-marah begitu.
Namun dibalik itu semua ia memberikan motivasi yang begitu membekas di ingatan ini. Motivasi yang bisa membangkitkan bagi mahasiswa baru seperti kami ini. Tiba-tiba aku jadi teringat pada dosenku saat ceritanya mulai membosankan.
“Orang yang curhat hanya butuh di dengarkan bukan di nasehati karena sampai besok berbuih pun kalian memberi nasehat, ia taka akan mendengarkan itu. Ia hanya butuh di dengarkan tunggulah sampai kesedihannya reda, baru perlahan-lahan beri masukan padanya”. Katanya di sela sela ia menjelaskan materi.
Dosen ini juga salah satu dosen yang favorit karena cara mengajarnya yang asik. Namun pernah suatu ketika teman sekelasku adayang salah memberitahu tentang jam kuliah kami selanjutnya karena ia ingin mengambil waktu yang lebih lama sekitar sejam setelah jam kuliah kami berakhir menurut jadwal, namun karena temanku salah memberitahu akhirnya ia tidak jadi meneruskan. Di pertemuan selanjutnya ia marah dan langsung meninggalkan kelas padahal ia baru saja masuk. Ia berfikir kami membohonginya, dan teman-temanku pun akhirnya segera menyusulnya dan meminta maaf padanya.
“Bahaya ni dosen.” Kata teman-teman sekelas.
Namun setelah kejadian itu ibu lebih bersahabat pada kami dan asik juga. Ia membongkar semua gedok guru di sekolah yang umumnya terjadi yang tidak kami ketahui. Kenapa? Karena pada akhirnya kamipun akan menjadi seperti mereka juga. Aamin. Pekerjaan yang mulia bukan.


Rabu, 27 Juli 2016

ANALISIS STRUKTUR DALAM DONGENG
 “KERBAU DAN MONYET LICIK”


A.  Deskripsi Data
a.       Sinopsis Dongeng “Kerbau dan Monyet Licik”
Pada suatu hari saat monyet yang sedang kelaparan, tiba-tiba ia melihat burung-burung membawa anggur lalu ia bertanya pada burung itu dari mana mereka mendapatkannya lalu burung itupun memberitahu bahwa ia mendapatkan dari kebun yang ada dis eberang sungai, mereka mengambil buah-buahan yang sudah jatuh dari pohon dan tentu saja para petani tidak mengusir mereka. Si burung pun berpesan agar jangan sampai monyet mengambil yang masih di pohon. Mendengar itu, si monyet segera menuju kebun di seberang sungai, karena waktu itu musim kemarau dan sungai mengalir kecil. Karena si monyet rakus maka ia memakan semua buah, baik yang jatuh ataupun masih menggantung di pohon. Tentu saja para petani mulai resah dan mulai menjaga kebun mereka dengan ketat.
Tak terasa musim penghujan tiba, dan si monyet mulai kebingungan bagaimana ia bisa ke kebun di seberang sungai itu lagi sementara sungai meluap karena guyuran hujan. Monyet mulai mencari cara, tiba-tiba ia teringat akan sahabatnya si kerbau. Kerbau terkenal sebagai hewan yang pandai berenang. Akhirnya ia menipu kerbau dan mengatakan pada kerbau bahwa petani di seberang sungai sengaja menyediakan buah-buahan itu untuk monyet, tanpa menaruh curiga si kerbau percaya dan menuruti kemauan monyet. Sesampainya kerbau memakan buah itu dengan lahap sama halnya dengan monyet. Si monyet yang sadar akan bahaya karena gerak-gerik mereka diperhatikan oleh petani ia pun segera meninggalkan kebun dan kerbau. Dan akhirnya kerbaupun sadar akan bahaya itu, akhirnya ia lari meninggalkan kebun. Sesampainya di sungai saat kerbau ingin menyebrang, tiba-tiba monyet keluar dari persembunyiannya di balik semak karena ia tidak bisa menyebrang, akhirnya monyet minta tolong pada kerbau. Melihat monyet hati kerbau menjadi dongkol. Jadi ia menyuruh monyet untuk melompat ke punggungnya namun monyet malah tercebur ke sungai.

b.      Analisis Data
1.    Dongeng “Kerbau dan Monyet Licik”
a.    Struktur Dongeng
1)   Alur
Untuk menemukan struktur alur yang digunakan oleh pengarang di dalam dongeng ini, peneliti berusaha melihat rangkaian peristiwa yang terdapat di dalam dongeng. Rangkaian peristiwa tersebut adalah sebagai berikut.
1.        Monyet yang sedang menahan lapar melihat burung membawa buah anggur.
2.        Burung memberitahu monyet ia mendapat dari kebun seberang.
3.        Monyet pergi ke kebun dan menakan semua buah-buahan.
4.        Para petani resah dan menjaga kebun dengan ketat.
5.        Namun monyet selalu mencari kelengahan petani.
6.        Musim penghujan tiba.
7.        Monyet bingung karena sungai meluap dan ia tak bisa berenang.
8.        Monyet meminta bantuan kerbau yang pandai berenang.
9.        Monyet mendatangi kerbau dan menipu kerbau agar mau menghantarkannya.
10.    Monyet dan kerbau sampai di kebun dan mereka memakan dengan lahapnya.
11.    Monyet sadar akan bahaya lalu lari meninggalkan kerbau.
12.    Kerbau pun akhirnya sadar akan bahaya dan ia segera berlari.
13.  Kerbau sampai di sungai monyet menghampiri.
14.  Monyet ingin menumpang, kerbau dongkol dan menyuruh monyet untuk melompat ke
       punggungnya.
15.  Monyet jatuh ke sungai.


                    
                               1   2    3    4   5    6   7   8   9   10   11    12   13   14   15
                                     
       Bagan 4.1 Urutan Sekuen Dongeng “Kerbau dan Monyet Licik”

      Dongeng ini terdiri dari 15 sekuen berada pada saat penceritaan. Maka jelaslah bahwa secara kronologis alur cerpen ini disusun menggunakan alur maju karena tidak ada sedikitpun menampilkan kejadian di masa lalu. Pada bagian awal cerpen ini terlihat monyet yang kelaparan kemudian ia melihat burung-burung yang membawa buah-buahan akhirnya burung memberitahukan dimana ia mendapatkan dan si monyet yang rakus pun memakan semua buah-buahan di kebun seberang sungai seperti yang di beritahu burung. Padahal burung sudah memberitahu bahwa jangan memakan yang di atas pohon namun karena monyet rakus ia tak mendengarkan. Musim hujan tiba, monyet meminta bantuan kerbau dan menipu kerbau. Kerbau percaya dan memakan buah dengan lahap tanpa curiga. Monyet yang sadar akan bahaya meninggalkan kerbau begitu juga kerbau namun saat akan menyebrang monyet muncul dan kerbau menyuruh agar monyet segera melompat namun monyet jatuh ke sugai.




2)   Penokohan
a.    Monyet
Monyet adalah hewan yang nakal, ia rakus karena memakan buah para petani baik yang jatuh maupun di pohon semuanya.
“Tapi karena sifatnya yang rakus, maka dia memakan semua buah anggur di kebun itu. Baik yang jatuh ke tanah, ataupun yang masih menggantung di pohon.”
Selain itu, dalam dongeng ini juga dipaparkan bahwa Monyet merupakan hewan yang licik ia menipu sahabatnya si kerbau yang pandai berenang. Terlihat pada kutipan berikut.
“Hehe, bagaimana aku tak gemuk? Aku makan enak tiap hari. Petani yang ada di seberang sungaisana, selalu memberiku makanan enak. Aku di perbolehkan menghabiskan semua buah di kebunnya”. Kata si monyet mulai berbohong.”

b. Kerbau
Kerbau merupakan hewan yang baik. Kerbau adalah hewan yang pandai sekali berenang. Ia terkenal dengan kehebatan berenangnya.
"Hehehe.. Bagaimana aku tak gemuk? Aku makan enak tiap hari. Petani yang ada di seberang sungai sana, selalu memberi ku makanan enak. Aku di perbolehkan menghabiskan semua buah di kebunya". Kata si monyet mulai berbohong. 
"Wah, benarkah itu? Beruntung sekali kau.. Pantas sekarang kau tambah gemuk".    
Kata si kerbau tanpa menaruh sedikitpun curiga pada sahabatnya. "Tapi kerbau, makanan di sana terlalu banyak. Aku tak sanggup menghabiskanya sendirian, maukah kau menemani ku ke sana dan kita makan berdua. Itu semua karena kau sahabat ku, makanya aku mengajak mu". Si monyet mulai menipu kerbau. "Wah.. Kau baik sekali kawan. Kalo begitu, ayo kita ke sana sekarang". Kata kerbau sangat girang. "Tapi tunggu dulu kerbau, air sungai kini sedang meluap. Aku tak bisa berenang..". Kata monyet lagi. "Ah, itu masalah gampang, kau bisa naik kepunggung ku. Kau tahu sendiri, aku ini perenang hebat". Jawab si kerbau. 

Pada kutipan di atas juga terlihat kerbau yang begitu mempercayai monyet namun monyet menipunya. Ia hewan yang baik dan bersahabat.

3)   Latar
Ruang lingkup sebuah karya sastra fiksi hakikatnya adalah keberadaan sebuah dunia yang dibangun oleh si pengarang. Pada bagian latar ini akan diuraikan latar tempat dan latar waktu yang menjadi latar dari peristiwa yang dialami oleh para tokoh di dalam dongeng ini. Latar tersebut akan diuraikan sebagai berikut. 

a.    Latar tempat
Hutan merupakan ruang bergerak dalam dongeng ini. Di dalam hutan pengarang menggambarkan tokoh serta peristiwa yang dialami para tokoh yang sememangnya binatang itu tinggal di hutan. Hal ini dapat dilihat dari kutipan berikut.
“Pada suatu hari ketika si monyet tengah asik termenung menahan lapar di bawah pohon, dia melihat banyak burung-burung tengah terbang membawa buah anggur yang cukup segar. Melihat hal itu, air liur si monyet mulai berjatuhan. Lalu si monyetpun berteriak pada burung-burung itu.." Hai kawan, dari mana kalian dapatkan buah-buahan yang ranum itu?". Merasa di panggil, burung-burung itupun berhenti dan bertengger di atas pohon. Sambil memakan buah anggur, burung-burung itupun menjawab.." Kami mendapatkanya dari kebun di seberang sungai. Para petani di sana baik hati. Mereka tak akan mengusir atau melukai mu jika kau hanya mengambil buah yang sudah terjatuh ke tanah, asal jangan kau makan buah yang masih ada di pohonya". Jawab burung-burung itu.” 

Dari kutipan di atas terlihat bahwa hutan merupakan tempat tinggal monyet dan kerbau, yang kemudian mereka pergi mencari makan kebun yang ada di seberang sungai.

b.    Latar waktu 
Latar waktu digunakan dengan tujuan melukiskan kapan suatu peristiwa terjadi. Latar waktu pada dongeng ini sangat erat kaitannya dengan latar tempat yang sudah dipaparkan sebelumnya. Latar waktu dalam dongeng ini dimulai pada waktu siang hari saat Monyet  sedang duduk di bawah pohon sambil menahan lapar.
“Pada suatu hari ketika si monyet tengah asik termenung menahan lapar di bawah pohon, dia melihat banyak burung-burung tengah terbang membawa buah anggur yang cukup segar. Melihat hal itu, air liur si monyet mulai berjatuhan. Lalu si monyetpun berteriak pada burung-burung itu.." Hai kawan, dari mana kalian dapatkan buah-buahan yang ranum itu?". Merasa di panggil, burung-burung itupun berhenti dan bertengger di atas pohon.”

Dari kutipan di atas sangatlah jelas peristiwa ini terjadi di siang hari karena burung-burung yang sedang mencari makan. Dan monyet yang duduk di bawah pohon.

4)   Tema
Tema merupakan pokok permasalahan atau konflik sentral yang terkandung di dalam dongeng. Karena tema cerita tidak secara langsung disampaikan oleh pengarang, maka untuk mempermudah menentukan tema, peneliti mencoba mengemukakan konflik utama yang mendukung terbentuknya sebuah tema. Konflik tersebut adalah sebagai berikut.
“Merasa tipu muslihatnya berhasil, si monyet merasa sangat senang. Monyet dan kerbau pun segera menuju kebun di seberang sungai, dan ketika menyeberangi sungai, si monyet naik ke punggung kerbau. Setelah sampai di kebun, monyetpun segera makan dengan lahapnya. Begitu pula si kerbau, karena dia merasa semua buah itu memang sengaja di berikan untuk monyet, maka dia juga memakan semua buah di kebun dengan lahap sama seperti monyet. Tapi tanpa mereka sadari, gerak-gerik mereka telah di perhatikan oleh para petani dari tadi. Para petani memang sengaja bersembunyi untuk mencari tahu siap sebenarnya yang mencuri di kebun mereka selama ini. Setelah melìhat monyet dan kerbau tengah kekenyangan, merekapun langsung berusaha menyergap kerbau dan monyet. Monyet yang sadar akan bahaya yang datang, segera berlari menyelamatkan diri meninggalkan kerbau yang kebingungan karena tak tahu masalah yang sebenarnya.”

Berdasarkan kutipan di atas jelaslah bahwa tema yang diangkat oleh pengarang dalam dongeng ini menyangkut permasalahan hidup yang terkadang juga dialami manusia. Monyet yang serakah dan menipu sahabatnya.
"Hehehe.. Bagaimana aku tak gemuk? Aku makan enak tiap hari. Petani yang ada di seberang sungai sana, selalu memberi ku makanan enak. Aku di perbolehkan menghabiskan semua buah di kebunya". Kata si monyet mulai berbohong. 
"Wah, benarkah itu? Beruntung sekali kau.. Pantas sekarang kau tambah gemuk". Kata si kerbau tanpa menaruh sedikitpun curiga pada sahabatnya. "Tapi kerbau, makanan di sana terlalu banyak. Aku tak sanggup menghabiskanya sendirian, maukah kau menemani ku ke sana dan kita makan berdua. Itu semua karena kau sahabat ku, makanya aku mengajak mu". Si monyet mulai menipu kerbau. "Wah.. Kau baik sekali kawan. Kalo begitu, ayo kita ke sana sekarang". Kata kerbau sangat girang. "Tapi tunggu dulu kerbau, air sungai kini sedang meluap. Aku tak bisa berenang..". Kata monyet lagi. "Ah, itu masalah gampang, kau bisa naik kepunggung ku. Kau tahu sendiri, aku ini perenang hebat". Jawab si kerbau. 
Merasa tipu muslihatnya berhasil, si monyet merasa sangat senang. Monyet dan kerbau pun segera menuju kebun di seberang sungai, dan ketika menyeberangi sungai, si monyet naik ke punggung kerbau. Setelah sampai di kebun, monyetpun segera makan dengan lahapnya. Begitu pula si kerbau, karena dia merasa semua buah itu memang sengaja di berikan untuk monyet, maka dia juga memakan semua buah di kebun dengan lahap sama seperti monyet.”

5)      Amanat
Amanat di dalam dongeng ini adalah jangan suka membohongi teman demi mendapatkan apa yang diinginkan karena apapun yang dilakukan dengan cara tidak baik akan mendapatkan balasannya sendiri dan setialah pada sahabat. Dan ini terbukti oleh dongeng ini yang sengaja dipaparkan dan dikemas sedemikian rapi.

6)      Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam dongeng ini adalah orang ketiga serbatahu. Terlihat jelas karena pengarang menggunakan kata monyet sebagai pelaku utama dan kata kerbau sebagai tokoh yang lainnya.


LAMPIRAN OBJEK PENELITIAN


Dongeng Kerbau dan Monyet Licik

Jaman dahulu kala, ada seekor monyet yang sangat nakal. Di sangat rakus dan suka mencuri tanaman dan buah para petani. Perbuatanya yang sudah sangat keterlaluan, membuat para petani resah. Sehingga para petani mulai menjaga ladang mereka dengan ketat dan memasang berbagai perangkap. Tentu saja hal ini membuat monyet yang nakal itu kebingungan, karena jika sampai dia tertangkap, nyawanya bisa melayang. 

Pada suatu hari ketika si monyet tengah asik termenung menahan lapar di bawah pohon, dia melihat banyak burung-burung tengah terbang membawa buah anggur yang cukup segar. Melihat hal itu, air liur si monyet mulai berjatuhan. Lalu si monyetpun berteriak pada burung-burung itu.." Hai kawan, dari mana kalian dapatkan buah-buahan yang ranum itu?". Merasa di panggil, burung-burung itupun berhenti dan bertengger di atas pohon. Sambil memakan buah anggur, burung-burung itupun menjawab.." Kami mendapatkanya dari kebun di seberang sungai. Para petani di sana baik hati. Mereka tak akan mengusir atau melukai mu jika kau hanya mengambil buah yang sudah terjatuh ke tanah, asal jangan kau makan buah yang masih ada di pohonnya". Jawab burung-burung itu. 

Mendengar jawaban itu, si monyet menjadi sangat girang. Diapun segera menuju kebun di seberang sungai, karena waktu itu sungai mengalir kecil karena musim kemarau, jadi si monyet dapat dengan leluasa menyeberangi sungai itu. Tapi karena sifatnya yang rakus, maka dia memakan semua buah anggur di kebun itu. Baik yang jatuh ke tanah, ataupun yang masih menggantung di pohon.

Berkali-kali si monyet mengulangi hal yang sama, hingga para petani di seberang sungai kini mulai resah. Mereka tak lagi seramah dulu, bahkan burung-burung kini juga di usir. Karena para petani tak tahu, bahwa yang merusak tanaman mereka adalah si monyet. Tapi meskipun sudah mulai di jaga, tapi si monyet tetap bisa dengan leluasa melakukan aksi nakalnya. Karena penjagaan tak begitu ketat, si monyet masih bisa mencari kelengahan para petani. Sehingga kelakuan si monyet kian hari kian menjadi. 

Tak terasa, masa sudah memasuki musim penghujan. Dan si monyet masih saja melakukan pencurian tanpa mau mendengar keluh kesah para petani yang mulai merugi. Si monyet sangat serakah dan rakus, sehingga yang dia fikirkan hanya kepentinganya sendiri. Tapi sial, waktu si monyet akan menyeberang sungai, ternyata sungai itu tengah meluap karena guyuran hujan di atas bukit. Hal tersebut membuat monyet sangat kebingungan, karena dia tak bisa berenang. 

Tapi monyet juga di kenal sebagai hewan yang licik, dia pun berfikir untuk mencari cara agar bisa menyeberang. Akhirnya, dia teringat pada sahabat lamanya, si kerbau. Kerbau adalah hewan yang cukup terkenal bisa berenang, dia adalah perenang yang hebat. Ahirnya, monyetpun menemui si kerbau untuk merayunya. "Hai kerbau sahabat ku, lama tak jumpa. Kenapa badan mu kini terlihat kurus?". Tanya monyet. "Ah, masak? Perasaan dari dulu tubuh ku tetap begini. Kau saja yang sekarang terlihat tambah gemuk". Jawab si Kerbau. "Hehehe.. Bagaimana aku tak gemuk? Aku makan enak tiap hari. Petani yang ada di seberang sungai sana, selalu memberi ku makanan enak. Aku di perbolehkan menghabiskan semua buah di kebunya". Kata si monyet mulai berbohong. 

"Wah, benarkah itu? Beruntung sekali kau.. Pantas sekarang kau tambah gemuk". Kata si kerbau tanpa menaruh sedikitpun curiga pada sahabatnya. "Tapi kerbau, makanan di sana terlalu banyak. Aku tak sanggup menghabiskanya sendirian, maukah kau menemani ku ke sana dan kita makan berdua. Itu semua karena kau sahabat ku, makanya aku mengajak mu". Si monyet mulai menipu kerbau. "Wah.. Kau baik sekali kawan. Kalo begitu, ayo kita ke sana sekarang". Kata kerbau sangat girang. "Tapi tunggu dulu kerbau, air sungai kini sedang meluap. Aku tak bisa berenang..". Kata monyet lagi. "Ah, itu masalah gampang, kau bisa naik kepunggung ku. Kau tahu sendiri, aku ini perenang hebat". Jawab si kerbau.

Merasa tipu muslihatnya berhasil, si monyet merasa sangat senang. Monyet dan kerbau pun segera menuju kebun di seberang sungai, dan ketika menyeberangi sungai, si monyet naik ke punggung kerbau. Setelah sampai di kebun, monyetpun segera makan dengan lahapnya. Begitu pula si kerbau, karena dia merasa semua buah itu memang sengaja di berikan untuk monyet, maka dia juga memakan semua buah di kebun dengan lahap sama seperti monyet. Tapi tanpa mereka sadari, gerak-gerik mereka telah di perhatikan oleh para petani dari tadi. Para petani memang sengaja bersembunyi untuk mencari tahu siap sebenarnya yang mencuri di kebun mereka selama ini. Setelah melìhat monyet dan kerbau tengah kekenyangan, merekapun langsung berusaha menyergap kerbau dan monyet. Monyet yang sadar akan bahaya yang datang, segera berlari menyelamatkan diri meninggalkan kerbau yang kebingungan karena tak tahu masalah yang sebenarnya. 

Tapi insting kerbau sadar akan bahaya yang mengancam, hingga ahirnya dia pun berlari menyelamatkan diri. Para petani melempari dan mengusir mereka dengan batu, sehingga membuat tubuh kerbau terluka, di tambah semak belukar yang penuh duri membuat si kerbau semakin kesusahan. Sedangkan si monyet sudah tak kelihatan batang hidungnya, hal tersebut membuat kerbau sadar bahwa dia telah di tipu. Hal itu membuat si kerbau menjadi sakit hati pada monyet. 

Ahirnya, setelah beberapa lama berlari si kerbau sampai di tepi sungai. Dengan segera diapun masuk ke dalam sungai untuk mulai menyeberang. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba si monyet muncul. Ternyata dari tadi si monyet bersembunyi di semak-semak karena tak bisa berenang. "Hai kerbau sahabat ku, tunggu aku..! Apa kau tega meninggalkan sahabat mu di sini?". Teriak si monyet. Melihat kedatangan si monyet, hati kerbau menjadi sangat dongkol. "Jika kau ingin ikut, cepatlah melompat ke punggung ku. Aku sedang buru-buru, jadi kalau tak segera melompat, kau akan ketinggalan". Jawab si kerbau dengan nada ketus. Mendengar itu, si monyetpun berlari dengan sekuat tenaga. Dia semakin panik ketika mendengar para petani yang mengejar telah ada di belakang mereka. Ahirnya setelah sampai pinggir sungai, si monyet segera melompat. Tapi na'as, karena perutnya terlalu kenyang, membuat tubuhnya bertambah berat dan kurang lincah. Si monyet tidak dapat sampai di punggung kerbau, dan ahirnya tercebur ke dalam sungai dan hanyut terbawa arus. Sedangkan si kerbau tak meperdulikan hal itu, dia lebih memilih segera lari menyelamatkan diri. Karena para petani sudah kian dekat dan siap menangkap mereka.