Minggu, 23 Juli 2017

Kado Ulangtahun Untuk Bapak

Aku menatap foto itu lebih lama dari biasanya. Ku telusuri semua wajah yang terpampang di sana. Ada adikku, ibuku dan Bapakku. Sebenarnya ada wajahku di samping Bapakku namun sengaja ku crop karena ketika itu aku masih berada di zaman ke-jahiliyahan-ku. Kini aku terfokus pada wajah Bapakku. Ku tatap lebih lama daripada yang lainnya.
***


“Kak, Bapak tak mau nasehatin koe macem-macem kak, koe pasti bosan kan kak, males ngerungok’e juga kan? Siji ae pesen bapak? Ojo macem-macem di tempat orang, kalo koe wes memang arep nikah ngomong, ojo nggae seng ora ora.” Ucap Bapakku serius.


Baru kali ini aku dinasehatin secara pribadi. Hanya kami berdua. Dan nasehat yang menohok sekali. Mungkin karna banyak kejadian yang membuat Bapakku memberikan nasehat seperti itu.


Aku hanya mendengarkan dengan anggukkan pelan bila diperlukan. Dan terkadang aku mencuri pandang ke arah Bapakku. Wajah itu benar-benar membuatku tak sanggup menatapnya.

Wajah gelisah itu sempat tertangkap olehku walaupun Bapak berusaha menyembunyikannya.


Aku dan Bapak memang tak banyak bicara. Banyak sekali sifat-sifat Bapak yang menuruniku, seperti halnya menunjukkan rasa sayang, Bapak mungkin tak pernah memelukku. Seperti Bapak temanku, yang bila ia bercerita aku selalu iri padanya. Tapi bapakku selalu memelukku lewat doa-doanya. Lewat perhatiannya. Jika aku menginginkan sesuatu bapaklah yang berusaha keras memeras keringat lebih banyak demi memenuhi keinginanku meskipun tampaknya mamak yang selalu mengabulkannya.


Bapak lebih sering diam, setelah aku meminta pada Bapak ingin kuliah di luar daerah. Masalah biaya, masalah diriku, atau masalah-masalah apa lagi entah yang tak terfikirkan olehku mungkin sedang berlari-lari di kepalanya.
***


Ku tatap lagi wajah Bapakku sambil menghapus kenangan ketika aku akan pergi jauh darinya. Wajah itu mulai berkerut. Bila ku ingat-ingat, Bapakku juga sudah mulai mempunyai rambut putih yang disebut uban. Wajah lelaki terganteng yang pernah kumiliki ini, kini mulai menua. Aku menghapus airmataku yang mulai berjatuhan. Ah, tentu saja ku hapus karena aku ingin terlihat tegar dan terlihat kuat. Di hadapan orang lain atau pada diriku sendiri.


Suara detik jam mulai terdengar di telingaku, menandakan bahwa hari benar-benar sudah larut malam karena sebegitu sepinya seperti tiada kehidupan sehingga suara detik jam yang bila siang hari seperti benda yang benar-benar mati tanpa suara itu kini telah menjadi benda mati namun bersuara.


Aku mulai teringat bila di Kampung, waktu ini adalah waktu-waktunya Bapakku menyendiri. Duduk di dapur sambil merenung. Entah apa yang dipikirkannya, bukan “entah apa” tapi terlalu banyak sehingga bila dijabarkan akupun tak sanggup mengingatnya lagi dilain waktu.


Airmataku kini tak terbendung lagi. Aku mulai menepis tegarku. Airmataku kini mengalir semaunya melewati pipi tirusku, aku ralat menjadi pipi kurusku. Pipi warisan dari Bapakku juga. Aimata itu mengalir menuju mulutku. Tentu saja bila terasa asin aku mulai terhenyak dan menghapusnya lagi.


Aku benar-benar merindukannya. Merindukan tatapan hangat ketika aku baru pulang dari rantauan. Ku perhatikan lagi mata itu sudah mulai sayu, mata yang lebih sering begadang dan bahkan tak tidur bila aku sakit.


Ulangtahun Bapakku sebentar lagi, yang ke 45 tahun ini. Aku berfikir kado apa yang akan ku  berikan. Sebenarnya kami bukan tipe keluarga yang suka merayakan ulangtahun, tapi kali ini aku benar-benar ingin memberinya sesuatu lagian kala itu aku sedang liburan dan pastinya aku akan pulang ke rumah.


Sebuah pelukan dengan ucapan “selamat ulangtahun Pak”? Ah, aku sudah terlalu sangat besar dan rasanya aku malu sendiri bila membayangkannya.  Jika aku melakukan hal itu tentu saja Bapak akan tertawa terpingkal-pingkal atau bahkan menangis haru.


Senyuman khas Bapakku itu selalu membuatku tertawan. Ah, gantengnya Bapakku ralat abangku. Pernah, suatu ketika, aku berobat. Dokter itu mengatakan bahwa aku adalah adiknya. Aku kadang berfikir apa Bapakku yang masih terlihat muda atau aku yang terlihat tua kala itu.


Tangan yang penuh dengan goresan-goresan itu bila ku ingat aku merasa malu sendiri. Sedangkan aku apa? untuk memegang pisau saja, aku takut-takut karena bila ada goresan, akan jelek tanganku. Pikirku sampai sekarang. Ah, anak tidak tahu malu.


Tangan kokoh yang dulu selalu menggendongku ke kamar jika aku tertidur di ruang keluarga. Bukan tertidur sebenarnya sengaja tidur atau bahkan pura-pura tidur. Anak nakal.

***


“Kak, belajar masaklah kak, arep koe kasi makan apa nanti bojomu. Indomie terus tiap hari.” Ucap Bapak ingin mengusiliku. Sebenarnya menyindirku karena hari itu aku terpaksa masak, karna mamak sedang ada urusan mendadak seharian. Tentu saja hasil masakkanku benar-benar buruk banget karna itu first time. Aku saja lebih memilih goreng telur ketimbang makan masakkanku sendiri tapi Bapakku yang benar-benar kukagumi itu dengan sabarnya memakan hasil masakkan anak gadisnya yang entah tak dapat kubayangkan lagi kini. Bukan karna malas masak lagi, tapi lebih menghargai perasaanku. Karna Bapak adalah chef kebanggaan kami yang masakkannya wenak tenan.


“Iyalah indomie terus biar rambutnya keriting.” Kini tak hanya Bapak yang mengusiliku bahkan Mamak dan adikku ikut-ikutan mengusiliku.

***


Aku tertawa sambil menghapus airmata yang merembes terus walau aku berusaha menghapusnya.
Bila dibandingkan dengan Bapak mungkin saja Airmata Bapak kini telah habis.
Aku melihat keluar jendela kemudian mmbersihkan diri dan mulai memejamkan mata.
“Aku akan memberikan kado yang terbaik untuk Bapak.” Ucapku dan akhirnya terlelap.

***

“Pak” ucapku sambil menyodorkan tangan ingin bersalaman.


“Selamat ulangtahun pak, hijrahku adalah kado yang ingin ku perlihatkan pada Bapak. Menutup aurat lebih rapat dari biasanya. Menggunakan jilbab lebih panjang dari biasanya dan berjilbab lebih lama dari biasanya. Selamat ulangtahun Pak” Ucapku dalam hati.  

Kamis, 06 Juli 2017

“Kalo dia udah syarii tapi masih suka chattingan sama cowo tapi mereka belum nikah gimana ka?”

“Maksudnya?”

“Ya, dia udah cadaran, udah hijrah tapi taken sama cowo masih suka mesraan di medsos, gimana tu?”

“Aduh, gimana ya. Sedangkan ikhtilat, emm bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan itu aja gak boleh ya apalagi itu, aduh gimana ya mau jelasin. Aku  mau bilang gini gitu, aku aja kadang masih suka khilaf, intinya udahlah biarin aja. Mungkin dianya lagi berproses, kan gak bisa instan. Lah mie instan aja pake dimasak dulu apalagi perubahan pada manusia yang banyak salahnya, Wallahu alam bishsawab.”

Ya pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali terlontar dari teman, kadang aku yang masih fakir ilmu ini juga susah mau jawabnya gimana. Namun terkadang dengan hitz-nya pakaian syarii. Lah emang iya lagi hitz-nya pakaian syarii? Keknya sih gitu ya. Upload foto sana, upload foto sini, di tempat cantik, di tempat unik. Aduh, aku yang lemah godaan ini kadang suka khilaf ikut-ikutan upload foto.

Padahal kalo difikirkan lagi. Aku rugi gak sih ya upload foto gitu di medsos, terus disaksikan banyak mata, bahkan para mata lelaki yang aku juga masih belajar dan nyari tahu gimana cara pandang laki-laki terhadap perempuan sampe-sampe kita wanita muslim diharuskan menutup aurat dari ujung rambut sampai ujung kaki kecuali apa yang biasa terlihat, ya seperti wajah dan telapak tangan.

Dan bahkan aku juga pernah tuh liat orang yang beh, rapat bener. Bener-bener rapat man-teman, dan aku Cuma bisa liat matanya dan matanya pun ada penutupnya lagi tapi nerewang. Masya ALLAH sebegitu rapatnya. Dan pasti itu karena menjaga dari pandangan laki-laki yang entah gimana. Sebenarnya temen-temen, ustadzah-ustadzah, dan murabbi udah banyak yang kasi tau Cuma aku pengen denger dari laki-laki itu sendiri ya maybe nanti kalo aku punya suami bisa ku tanya. Kalo sekarang gak usah deh, simpan aja rasa penasaran ini. *Lah kok curhat*

Kenapa aku bilang rugi upload foto ya iyalah jelas. Model-model aja potonya dipajang aja dapet gaji lah masak iya, kita kagak. Rugi dong ya kan ya kan ya kan? Udah deh mending berhenti upload foto terus simpan foto buat calon suami yang bakalan jadi suamimu kelak. Eaaa.

Terus kalo kita berhenti upload foto, berarti kita juga bantu para laki-laki untuk menjaga pandangannya. Eaaaaaa. Saling membantu kan ntar dapet komisi (baca: pahala) dari ALLAH ya kan ya kan? *uhukuhuk*
Kadang laki-laki mampu jaga pandangan secara langsung tapi nda sanggup nahan pandangan dari poto-poto wanita yang bertebaran di medsos. Duh aduh. *Ini aku baca dari tulisan orang ya, aku gak tau kalo dari mulut para laki-laki sendiri ya, mianhe oppa-oppa*

Ya aku juga bukan mau nyalahin cowo, kalo kemaren denger taujih dari ustadzah kurang lebih gini. Cowo memang dari sononya diciptain kek begono jadi beda sama cewe. Cewe liat cowo seksi malah ilfil ya. Tapi kalo dari pengalaman yang ku tau cowo liat cewe seksi. Duileh suit suit. *Afwan ya abg-abg sado*

Memang cara pandang laki-laki sama perempuan itu beda. Dari segala hal. Contohnya kalo lagi ada masalah. Cewe ada masalah curhat habis-habisan dulu baru enakeun, kalo cowo mati-matian mikirin solusi tanpa koar sana sini. *Ih kok gue ngerti banget yang kek beginian sih*

Mending yuks belajar untuk tidak upload poto, ya aku juga belajar yaaaa. Doain aja semoga pinter *eh.

Bahkan aku pernah denger ada perempuan yang benar-benar menjaga, mereka lebih memilih tidak punya semua akun sosmed. Gak punya ig, gak punya fb, gak punya twitter dan aplikasi lainnya. Masya ALLAH bangetkan?

Ha adalagi ni yang bilang gini, kalo gak upload foto gimana ntar, gak laku-laku dong. Orang-orang gak kenal kita dong. Udah ah gak papa, gak dikenal manusia, yang penting kekasih yang sebenar kekasih yaitu ALLAH swt kenal bahkan sayang sama gue eh kita semua deh. Eaa semoga kita semua adalah wanita yang dicintai ALLAH aamiin.

Lah padahal kan aku pengen bahas masalah pacaran. Kenapa jadi ke-hitzan anak jaman sekarang. Nda papa deh kalo masalah pacaran ntar-ntaran aja. Hehe.



Sabtu, 17 Juni 2017

“COBA KALO BERANI, JANGAN NYONTEK LAGI DEH”

Ceritanya ni baru pulang dari rumah mbah (nenek) sama mamak, eh tiba-tiba si adek keluar dari kamar sambil nangis-nangis ya ku fikir dia nangis gara-gara nggak di ajak. Lah ternyata dia dapet peringkat di kelas yang buat aku geleng-geleng kepala. Abis itu sambil tersedu-sedu dia ngomong “ Mereka curang, mereka semua pake hp, adek tidak. Kek manalah adek tak nurun gitu peringkatnya” sambil terisak-isak. Dan kakak yang kepo + dodol ini nanya “Lah emang semuanya bawa hp?” tanyaku dengan santainya sambil ngeliatin nilai-nilai rapornya. “Ada beberapa yang nggak, tapikan dia nyontek temennya.” Lah sudah.

Yah inilah dia budaya nyontek yang dari turun temurun gak ilang-ilang, aku juga gak tau dari sejak kapan budaya ini dibiasakan. Apasih yang dibanggain dari yang namanya nyontek. Oh ya kepsekku pas SMA juga pernah bilang, gakdeh, sering bilang deh kayaknya. Kurang lebih gini “Jika kamu mendapatkan nilai kamu dari nyontek, dari hal yang tidak jujur dan berdosa katakanlah haram, maka saat kalian tamat, kalian bakalan pake nilai haram itu buat masuk Perguruan Tinggi, terus pas di PT kalian nyontek juga dan nilai dari nyontek yang haram itu, kalian pake buat nyari kerja dan yah tau sendirilah kalian bakalan pake uang dari sesuatu yang gak baik, sesuatu yang gak ALLAH suka. Dan kalian bakalan nikah, punya anak dari uang tersebut. Naudzubillah min zalik”  Cepat-cepatlah bertaubat wahai sahabat sebelum dirimu terlambat.

Yah aku juga kadang sedih, kadang suka jengkel, kesu (kalo kata orang jawa) kalo liat temen-temenku yang masih nyontek, yah kadang dikasi taupun bagaikan angin yang berlalu begitu saja. Iyasih yang ngebuka pintu hati manusia itu ALLAH tapi kita harus tetep berusaha ngasi tau karena itu kewajiban kita yang kadang-kadang aku sendiri masih bingung, ngasi taunya gimana yang biar gak nyakitin, biar gak nge-gurui sifatnya.

Semoga yang baca tulisan ini dan masih nyontek mau berhenti nyontek karena selain yang ku sebut di atas, nyontek itu juga boongin diri sendiri. Dih diri sendiri aja diboongin gimana orang lain. Malu tuh sama monyet yang bergelantungan. Kenapa boongin diri sendiri? Ya iyalah malah itu sifatnya ngeremehin kemampuan sendiri, emangnya kamu gak percaya sama kemampuan sendiri. Kalo alasan nyontek itu belum belajar? Makanya belajar. Kalo alasannya gak ngerti, makanya nanya jangan bengong aja mikirin mantan. Ah kan aku jadi jahat. Yah emangnya aku baik kan gak juga *apasih*.

Oh iya bagi yang bilang aku baik mending taarufan dulu deh sama aku biar kenal, kek gimana aku. Dan bagi yang bilang aku gak baik ah mending kamu temenan dulu deh sama aku. *Lah kok jadi ngawur gini*

Oke pembahasan tentang nyontek aku fikir segini aja, sebenarnya masih banyak ya kerugian dari nyontek itu. Jangan tanya apa aja? Mending kalian pikir aja sendiri. Renungin tuh baik-baik *kalo kata dosenku*


Dan terakhir, coba deh lu semua aku kasi tantangan. Yang abis baca tulisan gaje ini dan yang masih ngegunain cara nyontek. Coba lu semua, kalo berani jangan pernah nyontek lagi deh! *jurus mbak tia*  

Jumat, 19 Mei 2017

Buang Sampah Sembarangan? Mungkin belum mengerti arti memiliki


Buang sampah sembarangan? Mungkin hal ini setiap orang khususnya di ngeri ini pernah melakukannya lah ya? gak semualah 80 % lah? Ah masak sih? Kalo gak percaya yuk mari kita lakukan penelitian.

Aku sebenarnya suka greget ya kalo liat orang buang sampah sembarangan, rasanya pengen aku ambil tu sampah terus aku ulek-ulek di mukanya. Huhu bukannya sok bersih atau apa, ya aku ngomong  gini bukan berarti aku gak pernah buang sampah sembarangan. Cuma ya aku pengen aja gitu belajar jaga kebersihan.

Ah aku jadi pengen cerita dikit ni soal kepsek pas SMAku dulu. Waaa malu banget deh aku di kala itu.

Kan aku lagi nemenin temenku ke WC, terus aku liat bapak2 lagi bersihin selokan, dan aku yang terlampau sopan ini lewat dengan santainya. Aku santai aja liatin bapak itu ya aku fikir, itu bapak2 tukang bersihin sekolah. *janganditiruyakelakuantidaksopanini* berhubung aku liatin terus,  mungkin si bapak risih aku liatin, aku kaget pas ditanyain nama dan pas itu juga temenku keluar dari wc dan kalian tau apa yang bapak itu katakan setelahnya, kami disuruh buang sampah-sampah yang di selokan, bayangkan betapa menjijikannya. Aku dan temenku nurut aja, ya karena kami bukan anak nakal2 kali huhu dan setelah itu temenku baru bilang kalo itu kepala sekolah. 

Dalam hati aku berfikir “Keren kali bapak kepsek ku ini segitu pedulinya, wih pembersih kali pasti bapak ini, mau dong punya suami kayak bapak” *ohok-ohok* btw ini kisah pas aku jadi anak baru di SMA ku yuaaa.

Dan yang paling buat kagum lagi bapak kepsekku ini, beliau selalu peduli sama sampah-sampah kecil yang bertebaran di sekitar sekolah, mungkin bapaklah orang kedua yang aku jumpai yang sedetail ini soal sampah, setelah ibuku tercinta itu yang suka ngomel-ngomel kalo aku letak sampah permen di atas TV. Sayang emak.Jadi rindu.

Kembali soal bapak kepsekku, sampah kecil seperti apa? Bayangkan pipit ale-ale masih bisa dideteksi sama pak kepsekku dan pipit ale-ale mungkin jadi trending topic setiap upacara senin kalo pak kepsekku yang mimpin upacara. Bukan Cuma senin aja setiap sabtu juga abis senam.  Namun semua ini tak sia-sia kawan karena sekolah kami selalu jadi sekolah terbersih no 1 sekabupaten. Hebatkan tepuk tangan dulu prok prok prok.

Dari Bapak aku mulai belajar arti bersih. Beranjak kuliah aku mulai mengerti kenapa mereka mereka, masih suka buang sampah sembarangan. Tepat sekali kata dosenku, karena mereka merasa tak memiliki. Memiliki lingkungannya.

Saat seseorang memiliki barang, pasti mereka akan mencintai, menjaga dan merawat barang yang mereka miliki. Tapi eitss tunggu dulu, setelah 20 tahun aku hidup, aku menemukan orang yang bahkan sama barangnya sendiri tak peduli, ini nyata, pengalamanku sendiri. Bukannya memojokkan atau mau ghibah ya nih. Tapi buat pelajaran. Dan aku pengen berbagi bahwa kebersihan itu sangat penting teman.

Oh ya saat orang diberi amanah untuk menjagakan hp temannya, dan di kala itu ia memegang 2 hp. Hp miliknya dan hp milik temannya tersebut, dan saat itu juga hp mereka akan jatuh pasti yang akan diselamatkan dulu adalah hpnya sendiri, right? Sebagian besar orang akan memilih menyelamatkan hpnya sendiri. Dan hanya orang2 tertentu yang akan menyelamatkan hp milik oranglain dulu.

Nah dari analogi ini, dapat kita tarik kesimpulan, saat seseorang merasa memiliki lingkungan sekitarnya pasti mereka akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Nah bagi mereka-mereka yang tak merasa memiliki, mereka dengan santainya akan membuang sampah itu di jalan, di kampus, di sekolah, dan di manapun mereka berada yang bukan kawasan pribadinya. Aku juga gak abis pikir sih, emangnya mereka gak risih gitu kalo banyak sampah gitu.

Sebagian orang berpikir “ah ngapain nanti juga dibersihin sama tukang itu, sama pembantu, sama orang itu”, atau sebagian lagi berpikir “ah gak ada tong sampah, udah ah di sini aja”.


Hmmmm. Yuklah kita berantas abis semua kebiasaan buruk kita ini, masak iya buang sampah sembarangan terus? Emang gak bosen apa?

Jumat, 14 April 2017

Postingan kali ini bukan cerpen, tapi postingan ucapan kamsahamnida for eonni eonni yang tinggal seatap. Ini dia. Taraaaaaaaaaaaaaa ini dia eonni eonni ku yang beautifull beautiful. *sebenarnya aku tak selebay ini*



Kenapa semuanya eonni, karena aku yang paling muda, itu aja ngulang tahunku yang ke 17, hehe gakding. Katakanlah yang ke-20. Emang yang ke-20 kok.

Yang ke-20? Gak nyangka ya, padahal 20 tahun yang lalu, aku baru aja dilahirin sama mamakkuuu.

Makasih mamak udah mau lahirin anakmu yang udah gede ini, tapi masih suka minta duit *eh*

Pokoknya terimakasih banget buat kalian eonni eonniku yang udah nyiapin ini dan buat ngulang tahunku yang ke 20 jadi sweet gini. Ya katakanlah sweet20 *ohok*

Mungkin bakalan jadi lebih sweet +++++ kalo dikasi kadonya “suami” *eh khilaf lagi*
Btw aku dapet kado ini dari mereka.



 Sherlock Holmes, ah Tia peka banget deh. 

Yang kemaren sempat galau banget di salemba.

Mau ngambil, tapi duit udah nipis banget, gak ngambil tapi pengen banget. Dan akhirnya setelah Destia bilang “kapan-kapan ajalah”, so, gak jadi ngambil cuma liat-liat doang.


Hal paling menyedihkan dari toko buku itu, ya itu tu cuma liat-liat doang, gak toko buku doang, toko baju, toko sepatu semua toko sih sebenarnya. Toko baju yang paling nyesek sebenarnya. *eh kok jadi curhat*

Waa walaupun aku gak bisa mengekspresikan rasa senengku gimana di depan kalian dapet ini ya sebenarnya seneng banget dapet buku ini dan dapet tanda tangan dari penulisnya lagi. Ni



  Banyak banget ya penulisnya, yadong itu dari yang nulis, ngedit, desain sampul dan bla bla bla lengkap deh dapet semua.

Uwaaa asik kan. Gakding itu tanda tangan dari eonni eonni ku. 

Ada bunda Delsya yang jago banget buat kue bukan kue donat, epok-epok, bakwan dan sejenisnya ya. Tapi kue tart, kue ku aja dia yang buatin waaaaa, makasih ya Qiyadah kami. Oh iya jualan kue juga lo, kunjungi ig nya apa nama ig-nya aku lupa. @kamidagang yaaaa ah iyaaa.

Pokoknya makasih banget buat kalian semua yang udah nyiapin ini dan buat keributan tengah-tengah malem. Makasih buat eonni Armi yang udah kasi kultum pertama di usia yang baru ini, makasih buat Ani, Fitri, Okta, Destia, Delsya makasih deh pokoknya. Oh iya ini dia kuenya



 Cantikkan? Rasanya juga lembut banget loh, aku suka syekali. Ini seriusan gak boong deh, lembut banget daaaahh.

Dan makasih juga buat temen-temen H-01 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia



 Ini poto pas keliling 6 negara eoppa, eonni.

dan makasih juga buat Ibu kita yang imut-imut, Ibu Indah. Makasih ucapannya ya temen-temen, Ibu. Makasih juga bu, dikasi pertanyaan yang banyak banget.

Untung gak nangis *eh* nangis mungkin kalo ditanya, “mana jodohnya?” *eh khilaf terus ni* mianhe eoppa, mianhe eonni

Dan makasih juga buat temen-temen yang udah ngucapin. Buat adekku tercinto jugoooooo.

Buat keluarga tercintaaa juga yang udah mau gedein aku dengan penuh rasa kasih dan sayang uhuhuhu missyou so much eomma, appa, emping, ijal, fakar, halmeoni, samchon, gomo, Syafaaaaaaaa miss miss banget.  


Minggu, 12 Maret 2017

Tangisan Tanpa Airmata

Malam cukup kental menghitam. Hitam pekat menyelimuti lorong jalanan. Bulan enggan menampakkan diri. Mungkin karena dingin menusuk tulang yang terasa mengigit. Angin yang berhembuspun kian lama kian ribut. Menghantam-hantam pepohonan melayangkan dahan kemanapun semaunya menambah keributan. Para bintang-bintang, sembunyi dibalik awan-awan yang hitam legam. Suara gemericik mulai mendekat dan tanpa aba-aba. “byurrrr” airnya turun tidak terkira. Semua basah. Pepohonan basah. Jalanan basah. Lampu-lampu berkarat yang tak menyala di pinggir jalan pun basah.

“Ais bangun bantu emak, ambil ember di dapur.” Ais yang tengah terlelap beberapa menit yang lalu dikejutkan oleh emaknya. Jalannya terhuyung-huyung, lampu padam, listrik padam. Gelap gulita. Ais berjalan meraba-raba ke dinding.

“Mak kenapa gelap sekali, Ais tidak bisa melihat.” Ais masih meraba-raba menuju dapur berusaha menemukan sesuatu sebagai penerang agar lebih memudahkannya mencari ember yang emaknya maksud untuk menampung air hujan akibat genteng rumah yang bocor.

“Pasang lampu minyak Ais, itu di bawah anglo.” Teriak emaknya dari dalam kamar berusaha menenangkan anak bungsunya yang baru dua bulan.

Hujan semakin deras bagai dituang dari atas langit. Pepohonan semakin cepat meliuk ke sana ke sini diterpa angin ganas yang bertiup semaunya. Guntur perlahan-lahan terdengar. Seberkas cahaya kilat menyambar pohon getah hingga ambruk menghalangi akses jalan ke kota. Keributan semakin menjadi menciutkan nyali para insan yang sudah terjaga dari tidurnya yang lelap. Hanya sekedar memastikan agar gubuk reot milik mereka tak ambruk diterpa badai.

Ais tetap merambat di tepian dinding mencari ember agar rumahnya tak digenangi air. Tak peduli pada petir yang menyambar-nyambar. Ais hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan ember secepat mungkin dan mendapatkan cahaya. Cahaya yang akan menerangi jiwanya yang kelam. Hatinya yang sunyi. Pikirannya yang sepi. Ais tak peduli pada petir yang bisa membunuh orang karena baginya kini ia telah mati. Mati dalam kesendirian. Sunyi, sepi sekali. Harapannya pun sirna disambar petir. Hatinya hancur diobrak-abrik lebatnya hujan. Ais sudah mati sejak lama.

“Aduh” Ais terpeleset.

“Kenapa Ais?”

“Kepeleset mak, sakit mak.” Ais mengadu.

“Alah, sedikit ajalah itu. Cepatlah Ais, adikmu takut ini gelap tak ada cahaya.”

Ais sabar, Ais sudah bosan mengomel di dalam hati karena sikap emaknya terhadap dia. Ais tak bisa lagi merasakan sakitnya mendapat perlakuan tidak adil dari emaknya. Hatinya sudah beku tak bisa lagi merasakan apa-apa.

Merasakan sakit? Sedih? Bahagia? Apa itu bahagia?
Ais tak lagi tau bagaimana rasanya bahagia sejak ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu.
Berbeda dengan kakaknya yang kini sedang kuliah di kota. Selalu dimanja-manja. Selalu dipuji-puji. Apapun yang kakaknya inginkan selalu dituruti. Sedangkan maunya Ais? Jangan harap mendengar saja mungkin tak sudi. Sama seperti keinginan Ais kala itu. Di bawah kaki bukit Ais duduk bersama Ayahnya, setahun yang lalu.

***
Hembusan angin manja membelai-belai rambut Ais yang terurai. Menambah pesona kecantikan, gadis berusia 17 tahun itu. Semburat cahaya oren kemerah-merahan menjelma di balik bukit pelengkap senja sore itu. Menghantar kepergian mentari pulang keperaduan.

“Ais, mari pulang. Kita beres-beres besok kan kamu berangkat pagi-pagi sekali. Nak, ingat pesan ayah ya? Jangan pernah tinggalkan solat.” Ayah beranjak dari rumput berjalan pelan sambil menunggu Anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa, yang besok akan kuliah di kota berjauhan dengan dirinya. Kekhawatiran tercetak jelas di muka Ayahnya. Namun sang pemilik berusaha menutup-nutupi dengan lekukan di bibirnya yang disebut senyuman.

Ais yang membeku, akhirnya beranjak.

Ketika gelap menghampiri Ais termenung sendiri. Ingin segera menutup mata, menghalau segala kembimbangan dan kegundahan hati meninggalkan kampung halaman, meninggalkan keluarga demi meraih cita-cita. Saat mencoba menutup mata, kesedihannya semakin menggerogoti hati. Akhirnya ia bangun dan menikmati malam yang terasa mencekam dan tiada akhirnya itu dengan menumpahkan segala isi hatinya ke dalam sebuah karangan kecil. Akhirnya ia terlelap sendiri sampai fajar menyambut.

“Ayah kemana? Kenapa belum bangun.”

Ais bergegas ingin membangunkan ayahnya karena azan subuh telah berkumandang. Air wudhu yang mengalir kini bercampur baur dengan airmata kesedihan Ais. Ais tak pernah meninggalkan ayahnya. Ayahnya masih terlelap. Wajahnya begitu tenang.

Ayah tersenyum. Pikir Ais.

Ais mendekati Ayahnya.

“Ayah, bangun yah.”

Ayahnya tak bergerak sedikitpun.

“Ayah, sudah subuh Ayah.”

Karena tak sedikitpun melihat reaksi ayahnya, Ais mengguncang tubuh ayahnya.

Nihil. Ayahnya tak juga bergerak.

“Ayah.” Ais sedikit berteriak.

Ais terdiam. Perlahan-lahan airmatanya yang sudah kering merembes lagi turun ke pipi.

Ayah bangun ayah, antarkan Ais ke kota Ayah. Ayah bangun. Ais berteriak dalam keheningan.

“Ayaaaaaaaah” teriak Ais menggema. Airmatanya tak terbendung lagi. Tumpah ke mana-mana. Ais mengguncang tubuh Ayahnya sekuat-kuatnya.

“Ayah, jangan tinggalin Ais, Ayah.” Ais berbisik di telinga ayahnya.
***
“Ais, puisi ini kamu yang buat?” Tanya ayahnya sambil memegang selembaran kertas lusuh di atas meja belajarnya.

“Iya, ayah. Jelek ya ayah?”

“Bagus nak. Teruskan. Kamu sepertinya nurunin bakat Ayah nak. Ayah suka sekali sastra. Ayah ngedapetin ibu kamu aja karena keindahan sastra. Setiap hari ayah selalu bikinin ibumu puisi dan Ayah selalu memberikannya ketika ibumu pulang dari kerja. Awalnya ibumu tak merespon apa-apa tapi kerana ayah setiap hari memberikan puisi-puisi sebagai symbol pernyataan cinta ayah pada ibumu, akhirnya ibumu luluh nak. Bagi ayah, puisi adalah ibumu. Karena tanpa ibu, ayah tak bisa merangkai kata-kata.”

“Waaa, ayah romantis sekali.”

“Nak, kamu tau sastra itu abadi, maka buatlah karya sastra. Kalau gitu buatin puisi untuk ayah, jika ayah telah tiada, maka ayah akan selalu abadi di dalam puisimu.”

“Siap ayah.”

Ais tersadar dari lamunannya. Airmatanya tak dapat lagi menetes. Kering. Beku. Seperti jiwa Ais saat ini. Tak ada lagi harapan hidup. Kebahagiaannya pun telah sirna bersama kepergian ayahnya. Takkan ada lagi yang membela dirinya ketika salah. Tak ada lagi yang memberikan kasih sayang.

Karena kepergian Ayahnya. Ais kini tak dapat melanjutkan lagi kuliahnya. Siapa yang akan membiayai. Ayahnya telah tiada. Sirna sudah semua harapan.

Hari-harinya, kini ia lalui dengan termenung, menulis, termenung, menulis.

“Ayahku tak pernah meninggalkanku karena keindahan ayah selalu terpancar di dalam hatiku. Di dalam puisi-puisi ini.” Ais menangis sesenggukan sambil memeluk erat buku diary pemberian ayahnya.





#minatsastra1
#dulce_et_utile








Rabu, 04 Januari 2017

Cuma Pengen Nikah


Terpandanglah dua orang insan yang sedang dimabuk asmara dibawah mentari yang hampir kembali keperaduan. Aku menatap sinis terhadap dua insan itu.

Aku pengen nikah ya ALLAH seperti mereka. Aku membatin dalam hati.

Ketika mentari kembali keperaduan sekaligus menghantarkan kepergian dua orang insan manusia yang kabarnya baru menikah dua minggu yang lalu. Tak lupa sang suami menggenggam erat tangan istrinya yang bercadar. Aku melihat sang suami membisikkan sesuatu kemudian berlalu meninggalkan sang istri. Aku lihat sedetail mungkin, ada tawa dibalik cadar hitam sang istri yang sepertinya dibisikkan sesuatu yang lucu oleh sang suami.

Aku pengen nikah ya ALLAH bener-bener pengen. Aku kembali membatin lagi, bahkan aku berteriak dalam batinku.

Setelah puas memperhatikan kedua insan itu, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil air wudhu untuk bertemu Rabb-ku.

“’Afwan ukhti ” Wanita bercadar itu tak sengaja menyenggol lenganku.

“Iya gapapa.” Jawabku singkat.

Adzan pun berkumandang, para peserta tablig akbar dan mabit (malam bina dan takwa) yang jumlahnya berkisar sekitar 150-an untuk yang akhwatnya bergegas mengambil air wudhu.

“Subhanallah, ya ALLAH andai semua wanita di dunia ini semuanya menutup aurat dan pakaian syari’I semuanya seperti ini, adem banget lihatnya kan ra.”

“Iya bener sa.” Aura menjawab sambil memandang kagum dengan pemandangan yang ada di depannya.

“Sa, tadi liatkan pengantin baru yang duduk di tangga tadi, aku liat mereka jadi pengen nikah.” Aku berkata sambil memegang pipi Alisa yang matanya berkeliaran memandang para ikhwan yang sibuk mengatur shaf untuk sholat berjamaah.

“Huss, ya ukhti jaga pandangan, mau solat pun masih maksiat.”

“Aku pun pengen kali ra, tu sama ikhwan yang itu tu. Yang pake baju hitam celananya gak isbal (celana di atas mata kaki). Ganteng, hapal 15 juz lagi. Dan yang paling buat aku salut itu, matanya dijaga banget. Ya ampun liat bawah mulu tu orang.”

“Halimkan?”
“Ah, kamu ini. Udah ayuk ah cepet mau solat juga.” Aku segera merapat ke kanan meluruskan shaf yang kosong di bagian depan.
***
Semenjak pulang dari acara tablig akbar, dan semenjak aku melihat dua insan yang dimabuk cinta di bawah senja sore kala itu. Aku menjadi semakin pengen menikah. Awalnya karena usiaku yang memang usia-usia cocok untuk menikah, kemudian ditambah dengan teman-teman seperjuanganku dulu di bangku sekolah sudah banyak yang menikah dan ditambah lagi teman-teman kuliahku banyak juga yang menikah muda dan berita-berita, gosip-gosip. Di tv, sosial media, lingkungan pergaulanku, bahkan ketika aku mengikuti kajian semuanya berbicara tentang “nikah muda”. Aku semakin mantap rasanya untuk menikah. Aku bahkan sudah menulis proposal pernikahan yang sewaktu-waktu bisa saja aku hantarkan ke murrabiku. Tak hanya itu aku bahkan sudah memikirkan konsep pernikahanku yang didominasi dengan warna pink namun sederhana yang penting syari’i. Aku mem-follow akun-akun yang menawarkan baju pernikahan, pelaminan, bahkan sampai ke persiapan diriku pribadi untuk sang suami. Aku mulai merawat tubuhku. Luluran setiap hari, masker-an tiap malam.

Malam itu, aku terbangun dari tidurku seperti malam-malam biasanya yang kulalui beberapa bulan terakhir ini. Aku meminta kepada-Nya, aku memuja muji-Nya. Kusampaikan segala kerinduanku bersama angin malam. Kusampaikan segala kerinduanku akan sang pendamping pada bulan dan bintang. Kusampaikan kerinduanku pada sang Rabb-ku di sepertiga malam.
Aku sengaja bangun lebih awal, karena seperti biasa. Ku tuliskan segalanya, kutumpahkan segala sesak di dadaku lewat kata-kata.

Merasakan dinginnya angin pagi membuat aku rindu padamu kekasih
Dimana engkau dimana
Menabung rindu sudah terlalu banyak
Menyimpan harapan sudah terlalu lama
Tapi tak jua ku temukan dirimu oh kekasih
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan daun yang tak sempat disampaikan ranting kepada pohon hingga menjadikannya gundul.
Dengan kata yang tak mampu diucapkan mulut hingga menjadikannya kelu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana kekasihku.  

Berlembar-lembar sudah kutuliskan kerinduanku hingga memenuhi blogku. Setelah selesai menuliskan surat cinta itu aku selalu mempostingnya ke blog pribadiku.

Beberapa menit aku memposting itu ada komentar dari seseorang yang sepertinya aku kenal. Orang itu adalah Halim. Aku benar-benar tak menyangka. Laki-laki yang menjadi impian para wanita tiba-tiba berkomentar di blogku.

Mimpi apa aku semalam. Halim komentarin blogku.

“Teruskan berkarya, suka sekali deh sama kata-katanya yang sederhana. Pasti suka banget kan sama sapardi djoko damono. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Karya beliau kan. Salam dari penggemar sapardi djoko damono.”

Aku berniat ingin membalas namun aku bingung harus membalas apa. Akhirnya aku memutuskan untuk membalas singkat.

“Iya, suka makasih ya. Salam.”

Aku sebenarnya ingin sekali menceritakan hal ini kepada Alisa teman sekamarku namun aku tak ingin menyakiti hatinya karena sepertinya Alisa benar-benar tertarik pada Halim. Bahkan hijrahnya pun sebenarnya karena Halim ya walaupun niatnya ikhlas karena ALLAH tetap saja perantaranya Halim. Sebelum hijrahnya, Alisa selalu menceritakan sosok laki-laki yang buat dia kagum, dia selalu menceritakan bahwa laki-laki itu selalu menjaga pandangannya.

 “Pernah kemarin tu lagi di kantin, kantin penuh banget dan aku laper banget. Kebetulan banget ada kursi yang kosong dan di depannya itu si Halim. Aku duduklah di depannya. Eh tiba-tiba pergi gitu aja dia gak jadi makan dan pesanannya di batalin.” Alisa menceritakan dengan gayanya yang agak lebay jika sudah bersamaku tetapi bila bersama teman yang lainnya dia tak menampakkan ke-lebay-annya itu.

“Kamu mau gak sama dia?”

“Ya maulah.”

“Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, makanya hijrah. Tinggalin semua kejahiliyah-jahilayah yang sekarang ada, tinggalin celana jin, baju ketat plus nerawang. Sering ikut kajian. Dan dekatkan diri kepada ALLAH, deketin dulu penciptanya.”
***
“Aura hari ini liqo ba’da ashar. Jangan lupa, aku mau ke rumah teman ngerjain tugas, jadi nanti langsung ke sana. Jadi aku tunggu di sana ya.” Alisa memberitahu kemudian bergegas meninggalkan aku yang baru bangun dari tidur panjangku di hari libur.

Ternyata, murabbiku hari ini membahas tentang persiapan pernikahan. Banyak sekali persiapan-persiapan yang tak pernah terbayangkan olehku. Dan di situ kami juga main jujur-jujuran seputar jodoh. Dari jawaban-jawaban yang dilontarkan temanku sepertinya cuma akulah yang jawabannya seperti anak SMA yang berangan-angan menikah. Dan bahkan Alisa pun sepertinya lebih mantap ketimbang aku dalam hal ini.

Malam itu ditemani dentingan jarum jam aku berfikir keras. Bersama sunyinya malam aku mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawabkan oleh senja. Ditemani rembulan aku menerka-nerka jawaban-jawaban yang bersembunyi dibalik awan-awan yang menghitam di kala malam. Aku berkelana melewati bintang yang satu ke bintang yang lainnya. Rasanya aku tak peduli lagi berapa jaraknya, yang ku inginkan saat ini hanyalah jawaban.

“Apa benar aku sudah sanggup untuk menikah?”

Ditengah-tengah kebimbangan yang menghantuiku setiap malam mengampiri beberapa minggu ini. Tiba-tiba saja murabbiku menanyakan pertanyaan yang sama padaku.

“Kamu udah siap untuk menikah? Ada laki-laki yang menyukaimu. Dia sudah menghantarkan proposalnya pada Umi, ini kamu baca ya. Kamu udah siap Aura?”
***
Pertanyaan dari murabbiku itu selalu menghantuiku, jujur saja beberapa hari ini aku selalu tidak fokus dengan aktivitasku baik di dalam kelas maupun diluar kelas. Aku semakin bertanya-tanya. Aku jadi semakin takut, aku jadi semakin ragu. Yang awalnya 95% keinginanku untuk menikah kini hanya tinggal 5%. Entah kenapa aku menjadi semakin tak percaya diri.

Sebenarnya sanggupkah diri ini? Atau hanya angan-angan anak SMA yang baru pubertas.

Aku sudah istikharah hampir seminggu tapi tak sedikitpun kemantapan itu muncul seperti dulu saat aku fikir menikah itu enak dan gampang. Padahal jujur saja, dari lubuk hatiku yang dalam aku diam-diam juga menaruh perasaan pada Halim sejak pertama kali bertemu di kala senja itu, saat aku tak tau harus pulang dengan siapa sehabis syuro untuk kegiatan memperingati malam tahun baru islam. Akhirnya Halim yang melihatku kebingungan dan teman-teman yang lain semuanya sudah pulang. Dia membantuku dengan meneleponkan adik perempuannya yang kebetulan ada di sekitar tempat kami syuro. Akhirnya aku pulang bersama adiknya dan ia juga mengikuti kami di belakang. Saat adiknya mulai ngebut mengendarai scoopi hitam dominan merah itu, si Halim pun mulai mendekat dan memarahi adiknya supaya jangan ngebut-ngebut. Aku jadi semakin tertarik padanya.


Di kala senja itu, dengan mantap aku mengatakan pada murrabiku. “’afwan ustadzah, saya belum bisa nerima dia untuk saat ini.”